Kota Mungkid – Puskesmas Kota Mungkid melaksanakan penyuluhan dan sosialisasi program P3LP (Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis), program wajib dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, terutama di instansi pendidikan. Kegiatan ini dilaksanakan di Laboratorium Biologi SMA Negeri 1 Kota Mungkid, pada Senin (13/7/2026), pukul 09.00–11.00 WIB. Dalam sosialiasasi ini, para siswa mendapat materi terkait kesehatan psikologis, gejala seseorang yang membutuhkan bantuan psikologis, serta cara-cara pencegahan dan penanganannya.
Ibu Ika Suryanti, A.Md.Kep., selaku narasumber dari Puskesmas Kota Mungkid, mengatakan bahwa kegiatan P3LP merupakan bentuk deteksi dini terhadap luka psikologis, sekaligus upaya agar siswa dapat menjadi first aider atau penolong pertama terkait masalah psikologis, terutama di lingkungan sekolah. “Karena sekolah itu ibarat rumah kedua dari siswa, dan anak-anak yang bermasalah di sekolah itu karena di rumah sudah ada masalah,” jelas Ibu Ika.

Dengan penerapan first aider di sekolah, penanganan terhadap gejala-gejala masalah psikologis dapat ditindaklanjuti lebih awal, sehingga siswa dapat dideteksi dan ditangani sejak dini sebelum gejalanya berkembang menjadi gangguan yang lebih serius.
Guna menindaklanjuti pelaksanaan program tersebut di sekolah, Ibu Naomi Sri Harjani, S.Pd., selaku koordinator Bimbingan Konseling (BK), mengatakan bahwa sekolah akan berfokus pada pendekatan 3M (Memperhatikan, Mendengarkan, dan Menghubungkan) untuk menstabilkan emosi siswa. Pendekatan ini mencakup rujukan kasus, dukungan lingkungan, serta evaluasi berkala untuk memastikan siswa mendapatkan pendampingan yang tepat tanpa memperburuk kondisinya.

Beliau juga menyampaikan bahwa program P3LP sangat bermanfaat bagi siswa karena membekali mereka dengan keterampilan untuk menstabilkan emosi teman yang mengalami krisis, stres berat, atau trauma akibat perundungan maupun masalah lainnya. “Ini (program P3LP) membantu mencegah perburukan kondisi mental di lingkungan sekolah,” tutur Ibu Naomi.
Salah satu peserta, Febyna Minanur Winda dari kelas XII B, mengaku mendapat wawasan baru dari sosialisasi ini, terutama terkait pemahaman bahwa luka psikologis tidak selalu terlihat dari luar. “Kadang ada orang yang kelihatannya biasa saja, tetapi ternyata lagi menyimpan banyak masalah. Dari situ saya jadi sadar kalau kita tidak boleh gampang menilai orang dari penampilannya saja,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa materi P3LP penting dipelajari karena masalah kesehatan mental dapat dialami siapa saja, termasuk pelajar, sehingga lingkungan sekolah bisa menjadi lebih nyaman dan saling mendukung.
Febyna juga berencana menerapkan apa yang ia pelajari dengan mendengarkan cerita teman yang sedang menghadapi masalah tanpa menghakimi, serta menyarankan mereka untuk berkonsultasi dengan pihak yang lebih kompeten, seperti guru BK atau orang tua jika diperlukan.
Dengan terlaksananya program P3LP ini, diharapkan seluruh warga sekolah dapat lebih peka terhadap kondisi psikologis diri sendiri maupun orang lain di sekitarnya, sehingga tercipta lingkungan pendidikan yang sehat, suportif, dan saling peduli.
Liputan @jurnalistiksmansakokid
– Amartya Wanindya Kaaffah (XII G)
– Adilla Regita Cahyani (XII A)









