Kota Mungkid – Duta Literasi Sekolah (DLS) SMA Negeri 1 Kota Mungkid menyelenggarakan Pelatihan Barista pada 30–31 Juli 2026 di Ruang Pertemuan SMA Negeri 1 Kota Mungkid. Kegiatan yang diikuti oleh 27 anggota Duta Literasi Sekolah ini bertujuan membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan dasar di bidang barista sekaligus menumbuhkan jiwa kewirausahaan.
Pelatihan menghadirkan Wiski Setianto sebagai narasumber. Selama dua hari, peserta mempelajari berbagai materi mulai dari pengenalan kopi, teknik dasar pembuatan espresso, penggunaan peralatan barista, hingga praktik steaming susu dan pembuatan minuman berbasis espresso secara berkelompok.
Menurut Wiski Setianto, pelatihan ini tidak hanya bertujuan mengajarkan cara meracik kopi, tetapi juga memberikan bekal yang dapat dimanfaatkan peserta di masa depan.
“Selamat belajar tentang kopi. Semoga ilmunya bisa bermanfaat nanti di dunia luar, baik di dunia kerja maupun di mana pun berada. Semoga bisa menjadi bekal untuk menunjang karier. Yang terpenting adalah terus belajar,” ujarnya.

Selain keterampilan teknis, Wiski menekankan pentingnya sikap kerja atau attitude dalam profesi barista. Menurutnya, kemampuan teknis dapat terus diasah, tetapi sikap yang baik harus ditanamkan sejak awal.
“Skill bisa terus dilatih, tetapi yang paling utama adalah attitude. Itu yang harus dimiliki setiap orang,” tambahnya.
Ketua panitia, Muhammad Demas Zada T., siswi kelas XI-H, menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam penyelenggaraan kegiatan ini adalah menyusun jadwal yang sesuai dengan waktu narasumber, pihak sekolah, dan seluruh peserta. Di samping itu, panitia juga harus memastikan kesiapan berbagai peralatan dan bahan praktik agar kegiatan berjalan sesuai rencana.
“Untuk mengatasinya, kami melakukan koordinasi secara intensif, membagi tugas sesuai bidang masing-masing, serta melakukan pengecekan ulang terhadap seluruh perlengkapan sebelum kegiatan dimulai,” jelas Demas.
Keberhasilan pelatihan, lanjut Demas, dinilai dari tingkat kehadiran dan partisipasi peserta, antusiasme saat mengikuti materi maupun praktik, kemampuan peserta menerapkan teknik dasar pembuatan minuman, serta kreativitas setiap kelompok dalam menghasilkan produk berbasis espresso.
Salah satu peserta, Lintang Vivian, siswi kelas XII-A mengungkapkan bahwa pelatihan ini memberikan pengalaman baru sekaligus mengubah pandangannya terhadap profesi barista.

“Menurutku, keterampilan yang paling berkembang adalah teknik dasar barista, seperti membuat espresso dan latte art karena itu merupakan dasar dalam pembuatan kopi,” ungkapnya.
Ia juga menyadari bahwa menjadi seorang barista membutuhkan ketelitian dan latihan yang konsisten.
“Pelatihan ini membuatku sadar kalau menjadi barista ternyata tidak semudah hanya membuat kopi. Dibutuhkan ketelitian dan latihan, terutama saat membuat latte art,” ujarnya.
Meski sempat mengalami kesulitan saat pertama kali mencoba membuat latte art, peserta tersebut berusaha mengatasinya dengan mengamati praktik peserta lain dan terus mencoba hingga memahami teknik yang benar.
Pada hari kedua, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk menciptakan produk minuman berbasis espresso. Setiap kelompok diberi kebebasan mengembangkan ide dan kreativitasnya. Salah satu produk yang dihasilkan adalah Uwespresso, minuman yang memadukan espresso dengan ubi ungu, susu kental manis, dan fresh milk. Produk tersebut menjadi bukti bahwa peserta mampu menerapkan materi yang diperoleh sekaligus menghadirkan inovasi minuman yang memiliki potensi untuk dikembangkan.
Melalui pelatihan ini, panitia berharap peserta tidak hanya memperoleh keterampilan dasar sebagai barista, tetapi juga mampu mengembangkan kreativitas, rasa percaya diri, dan jiwa kewirausahaan. Keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat menjadi bekal untuk memasuki dunia kerja maupun menciptakan peluang usaha secara mandiri di masa mendatang.
Tim liputan @jurnalistiksmansakokid:
Claresta Aulia Zahra (XII-A)
Shafa Nabila Nur Rahmah (XII-A)









