Berita

Membangun Sekolah Berintegritas, SMA Negeri 1 Kota Mungkid Gelar Sosialisasi dan Edukasi Antikorupsi Bagi Pelajar

Kota Mungkid – Dalam upaya membangun karakter pelajar yang jujur dan berintegritas, SMA Negeri 1 Kota Mungkid menyelenggarakan Sosialisasi dan Edukasi Branding Sekolah Berintegritas melalui Pendidikan Antikorupsi bagi Pelajar pada Rabu (2/9/2026). Kegiatan tersebut dilaksanakan di lingkungan SMA Negeri 1 Kota Mungkid sebagai bentuk komitmen sekolah dalam menanamkan nilai-nilai antikorupsi sejak dini kepada seluruh peserta didik. Melalui kegiatan ini, siswa diberikan pemahaman mengenai pentingnya integritas dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di lingkungan sekolah.

Kegiatan sosialisasi tersebut memberikan edukasi mengenai berbagai nilai dasar antikorupsi, seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, kerja keras, kesederhanaan, keberanian, dan kepedulian. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat diterapkan oleh siswa dalam berbagai aktivitas, mulai dari proses pembelajaran hingga kegiatan organisasi dan kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, pendidikan antikorupsi tidak hanya menjadi materi yang dipelajari, tetapi juga menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui sosialisasi dan edukasi ini, diharapkan seluruh warga sekolah dapat berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan pendidikan yang berintegritas. Para pelajar tidak hanya diharapkan memahami bahaya korupsi, tetapi juga mampu menjadi contoh dalam menerapkan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan kedisiplinan. Sekolah berintegritas pun diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam mencetak generasi muda yang berkarakter dan berkomitmen terhadap budaya antikorupsi.

Tankinaya Sekar Pinilih, siswa kelas XI C, mengungkapkan bahwa materi tentang integritas menjadi bagian yang paling menarik baginya. Menurutnya, integritas mengajarkan bahwa kejujuran dan tanggung jawab perlu dibiasakan mulai dari hal-hal kecil, bukan hanya ketika seseorang berada di bawah pengawasan. Ia juga menyadari bahwa integritas sebenarnya dimulai dari diri sendiri melalui sikap sederhana, seperti berkata jujur, disiplin, dan bertanggung jawab dalam menjalankan kewajiban.

Ibu Nilasari Nugrahaini, S.H., selaku panitia acara, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan agar para kader dapat menyalurkan pemahaman mengenai karakter berintegritas kepada teman-teman di kelas masing-masing. Nilai-nilai yang ditekankan meliputi kejujuran, kedisiplinan, kepedulian, serta sikap positif lainnya. Melalui kegiatan tersebut, para siswa diharapkan mampu membangun karakter berintegritas dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk memastikan kegiatan berjalan lancar dan memberikan manfaat bagi peserta, panitia melakukan pemantauan melalui daftar hadir serta menyiapkan berbagai kegiatan lanjutan, termasuk lomba. Para kader integritas nantinya diharapkan dapat mengaplikasikan materi yang diperoleh dengan membuat kampanye di kelas dan mengajak teman-temannya untuk menerapkan nilai-nilai integritas. Keberadaan kader dari setiap kelas juga akan menjadi salah satu bentuk pemantauan keberlanjutan program. Upaya penguatan karakter siswa terus dilakukan melalui program pembentukan sekolah berintegritas.

Pendidikan antikorupsi pada usia sekolah merupakan langkah krusial dan strategis dalam membentuk karakter serta pola pikir generasi muda. Bapak Wahyu menegaskan bahwa pembentukan karakter yang dilakukan sejak dini menjadi investasi jangka panjang untuk memastikan para calon pemimpin masa depan memiliki benteng moral yang kuat, mengingat pembentukan karakter akan terlambat jika baru diberikan saat mereka dewasa.

Dalam pelaksanaannya, penanaman nilai integritas menekankan pada empat prinsip utama, yaitu keselarasan antara pikiran, perkataan, dan perbuatan; tanggung jawab serta kedisiplinan dalam menghargai aturan; keberanian menyuarakan kebenaran dan menolak kecurangan; serta kepedulian terhadap dampak buruk korupsi bagi masa depan bersama.

Melalui edukasi ini, para siswa dibekali kemampuan berpikir kritis untuk mengidentifikasi kecurangan akademik, keterampilan mengambil keputusan beretika saat menghadapi dilema moral, serta jiwa kepemimpinan berbasis integritas agar mampu menjadi teladan di masyarakat.

Namun, upaya tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan nyata. Salah satu hambatan terbesarnya adalah normalisasi kecurangan kecil, seperti kebiasaan menyontek, terlambat, dan tidak jujur dalam tugas kelompok. Tantangan lain meliputi risiko penyampaian materi yang terlalu teoretis dan kaku, serta pentingnya menjaga konsistensi teladan dari lingkungan sekitar siswa.

Menghadapi tantangan tersebut, Wahyu Setiyadi, S.H., M.M., selaku narasumber, menekankan pentingnya menjadikan nilai-nilai integritas sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sekadar pengetahuan yang diperoleh melalui sosialisasi. “Kami berharap peserta tidak hanya menyerap pengetahuan ini sebagai teori, tetapi menjadikannya gaya hidup. Harapan utamanya adalah lahirnya generasi baru yang memiliki zero tolerance terhadap kecurangan dalam bentuk apa pun, berani membela kebenaran, dan menjadi agen perubahan atau agent of change yang membawa dampak positif bagi lingkungan sekolah, keluarga, dan bangsa.”

Edukasi ini tidak sekadar menjadi teori, melainkan diharapkan dapat diterapkan sebagai gaya hidup sehingga lahir generasi baru yang menolak tegas segala bentuk kecurangan dan menjadi agen perubahan bagi bangsa.

Tim Liputan @jurnalistiksmansakokid

Wildan Muhammad Maulana Akbar (XI-F)

Muslihatun Nafi’ah Syah Putri (X-B)

What is your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

Yang mungkin Anda sukai

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in:Berita