Berita

Prestasi Perdana Selama Menempuh Pendidikan di SMA, Siswa SMA N 1 Kota Mungkid Raih Juara 2 Dalam FLS3N Cabang Monolog

Kota Mungkid — Prestasi membanggakan kembali diraih oleh siswa SMA Negeri 1 Kota Mungkid dalam ajang FLS3N 2026 cabang lomba monolog tingkat Kabupaten Magelang yang diselenggarakan di SMA Negeri 1 Muntilan pada 22 April 2026. Dinda Sauqy Noorma Kahila (XI G) bersama tim monolog berhasil meraih Juara 2 setelah menampilkan kemampuan akting dan penghayatan yang memukau. Kemenangan ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi sekolah maupun peserta yang bersangkutan.

Dinda Sauqy Noorma Kahila (XI G) mengaku merasa sangat senang dan bersyukur atas pencapaian tersebut. Ia menyampaikan bahwa keberhasilan ini merupakan kemenangan pertamanya sejak menempuh pendidikan di bangku SMA. Menurutnya, prestasi ini menjadi pengalaman yang sangat berharga sekaligus motivasi untuk terus mengembangkan kemampuan di bidang seni peran.

Persiapan menuju lomba dilakukan selama kurang lebih satu bulan. Selama masa latihan, ia menghadapi berbagai tantangan, terutama ketika terdapat adegan atau bagian naskah yang salah. Setiap terjadi kesalahan, latihan harus diulang kembali dari awal agar penampilan dapat berjalan maksimal saat perlombaan berlangsung. Ia juga berpesan kepada siswa yang akan mengikuti lomba FLS3N selanjutnya agar melatih penghayatan karakter serta artikulasi yang jelas.

Dinda menjelaskan bahwa keikutsertaannya dalam lomba monolog bermula dari dirinya yang dinyatakan lolos dalam seleksi calon peserta monolog di sekolah. Proses seleksi dilakukan dengan menawarkan kesempatan kepada siswa kelas X dan XI secara langsung di setiap kelas. Beberapa siswa yang tertarik kemudian mengikuti tahap seleksi yang menitikberatkan pada kemampuan olah rasa, ekspresi, dan teatrikal.

Guru pembimbing utama, Tarsius Joni Prasetya, S.Pd., menjelaskan bahwa naskah monolog berjudul “Tilik Belik” terinspirasi dari tragedi ekologi di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang berkembang menjadi tragedi kemanusiaan. Gunungan sampah menyebabkan pencemaran udara dan air hingga menimbulkan korban jiwa. Menurutnya, masyarakat desa yang awalnya hidup makmur tergiur sejumlah uang untuk menjual tanah warisan leluhur mereka tanpa menyadari pentingnya menjaga dan mengonservasi lingkungan tersebut. Melalui seni teater monolog, ia berharap pesan tentang kepedulian lingkungan dapat tersampaikan kepada masyarakat.

Judul “Tilik Belik” sendiri memiliki makna filosofis. Kata tilik berarti melihat, sedangkan belik dimaknai sebagai hati. Dengan demikian, “Tilik Belik” mengandung pesan agar manusia mampu melihat ke dalam hati nuraninya sendiri dalam menyikapi persoalan lingkungan maupun kemanusiaan.

Selain mengangkat pesan sosial, penampilan monolog “Tilik Belik” juga memiliki keunikan tersendiri karena menggunakan efek suara manual yang dimainkan langsung oleh tim efek suara dari tim monolog. Penggunaan efek suara secara langsung tersebut berhasil menambah suasana dramatis dan memperkuat penghayatan penampilan di atas panggung.

Di sisi lain, proses pementasan sempat mengalami kendala yang tidak terduga. Prosesi pentas yang awalnya diperkirakan berlangsung di lapangan tiba-tiba dialihkan ke dalam ruangan. Pihak SMA Negeri 1 Kota Mungkid mengaku tidak mengetahui alasan perpindahan lokasi tersebut. Akibat perubahan mendadak itu, konsep tata cahaya atau lighting yang sebelumnya telah dipersiapkan tidak dapat digunakan sehingga tim harus menyesuaikan diri dengan lighting seadanya yang disediakan pihak tuan rumah.

Prestasi yang diraih Dinda dan tim monolog diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi siswa lain untuk berani mencoba serta mengembangkan potensi di berbagai bidang, baik akademik maupun nonakademik.

Tim liputan @jurnalistiksmansakokid:
Desilva Sekar Hau (X A)
Khoiri Agustina Sri Utami (X C)

What is your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

Yang mungkin Anda sukai

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in:Berita