Kota Mungkid – SMA Negeri 1 Kota Mungkid menggelar kegiatan seminar kokurikuler untuk siswa kelas XI dengan tema AROMA (Aksi Remaja Olah Makanan Aman). Kegiatan kokurikuler ini dilaksanakan pada tanggal 2 Juni 2026 dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam memilih, mengolah, serta menyajikan makanan yang aman, bergizi, dan sehat. Melalui kegiatan ini , siswa diharapkan dapat memahami pentingnya penerapan pola konsumsi B2SA (Beragam, Bergizi Seimbang, dan Aman) dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan diawali dengan pemberian materi oleh ibu Sita Utami Budiarti, S. Gz, Diestisien dengan materi B2SA, lalu dilanjutkan oleh pemateri kedua yaitu ibu Lucia Sri Winarni Susilowati, SE, M.Si dengan materi Edukasi Konsumsi Pangan B2SA.
Menurut Ibu Sita sebagai narasumber pada kegiatan seminar kokurikuler mengatakan bahwa keberhasilan penerapan B2SA bergantung pada peningkatan pengetahuan masyarakat serta dukungan dari keluarga, sekolah, dan juga dari pemerintah. “Kalau pengetahuan sudah ada, kemudian dari daya beli juga mendukung insyaAllah pasti semuanya akan tercapai. Namun, tantanganya untuk saat ini adalah banyaknya informasi di media sosial yang belum sesuai dengan konsep B2SA, sementara remaja lebih tertarik pada makanan dan minuman viral.” ujarnya.

Beliau juga menjelaskan bahwa keluarga dan sekolah memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan makan sehat pada remaja melalui pendampingan, edukasi, dan pemberian contoh pola makan yang baik. Sementara itu, pemerintah diharapkan dapat menjaga ketersediaan serta keterjangkauan pangan agar masyarakat lebih mudah menerapkan prinsip B2SA dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu peserta seminar kokurikuler Neda Agha Ulrich Elfreda dari kelas XI F menyampaikan bahwa media sosial memiliki pengaruh besar terhadap pola makan remaja. Menurutnya, konten kuliner viral dan konten mukbang sering kali membuat remaja tertarik mencoba makanan yang sedang tren dibandingkan makanan sehat karena dianggap lebih menarik dan dapat menunjang interaksi di media sosial maupun lingkungan pertemanan. Oleh karena itu, menurutnya edukasi gizi perlu dikemas dengan cara yang lebih kreatif, seperti menyajikan makanan sehat dengan tampilan yang menarik , memberikan informasi gizi yang sesuai dengan kehidupan remaja , serta memanfaatkan media sosial dan influencer sebagai sarana kampanye pola makan sehat.
Panitia kokurikuler, Aqeela Vania Azarine siswi kelas XI J, menjelaskan bahwa tema B2SA dan ketahanan pangan dipilih karena masih banyak siswa yang beranggapan bahwa sumber karbohidrat hanya berasal dari nasi putih dan sumber protein hanya dari ayam atau telur. Menurutnya, Indonesia memiliki beragam pangan lokal yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber gizi yang tidak kalah baik. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan meningkatkan kewaspadaan siswa terhadap makanan yang mengandung bahan kimia berbahaya seperti formalin, boraks, dan pewarna tekstil.
“Kami ingin menyadarkan dan mengubah pola pikir siswa bahwa sumber karbohidrat tidak hanya nasi putih dan sumber protein tidak hanya ayam atau telur. Masih banyak kekayaan pangan lokal yang dapat dimanfaatkan. Selain itu, siswa juga perlu memahami pentingnya memilih makanan yang aman dari bahan kimia berbahaya,” ujar Aqeela.

Untuk memastikan materi yang diberikan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, panitia merancang berbagai kegiatan praktik. Siswa diajak melakukan penanaman tanaman pangan yang nantinya diolah menjadi produk B2SA. Selain itu, siswa juga diberi pengalaman mengolah dan memasarkan produk pangan sehat hasil karya mereka sendiri. Melalui kegiatan tersebut, diharapkan siswa dapat memahami secara langsung proses produksi pangan sekaligus nilai penting ketahanan pangan.
Menurut Aqeela, keberhasilan program ini dapat dilihat dari perubahan pola pikir dan kebiasaan siswa setelah mengikuti kegiatan. Panitia berharap siswa tidak hanya memahami konsep ketahanan pangan, tetapi juga mampu menerapkannya dengan memanfaatkan berbagai sumber pangan lokal serta lebih memperhatikan kandungan gizi dan keamanan makanan yang dikonsumsi. Dengan demikian, kegiatan kokurikuler ini diharapkan dapat membentuk generasi muda yang lebih cerdas, sehat, dan peduli terhadap ketahanan pangan di masa depan.
Secara keseluruhan, kegiatan seminar kokurikuler Aroma memberikan pemahaman kepada siswa pentingnya pola konsumsi B2SA dan ketahanan pangan melalui materi, praktik, serta pengalaman langsung dalam mengolah pangan. Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong siswa untuk lebih bijak dalam memilih makanan, memanfaatkan pangan lokal, dan menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, SMA Negeri 1 Kota Mungkid berupaya mencetak generasi yang lebih sadar gizi, peduli kesehatan, dan siap mendukung ketahanan pangan di masa depan.
Tim Liputan @jurnalistiksmansakokid:
Naila Atha Warastri (XI D)
Aida Shofiana (XI D)









