Kota Mungkid — Dalam rangka membentuk generasi muda yang peduli terhadap kesehatan dan kemandirian pangan, SMA Negeri 1 Kota Mungkid menggelar kegiatan kokurikuler bertema AROMA (Aksi Remaja Olah Makanan Aman) bagi seluruh siswa kelas XI. Kegiatan edukatif ini berlangsung selama lima hari, mulai 2 hingga 8 Juni 2026, di lingkungan sekolah.

Kegiatan kokurikuler kali ini berfokus pada penerapan pola makan sehat melalui konsep B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman) serta penguatan kemandirian pangan sejak dini. Melalui berbagai materi, praktik, dan proyek kolaboratif, siswa diajak memahami pentingnya konsumsi pangan yang sehat, aman, dan memanfaatkan potensi pangan lokal. Selain memperoleh wawasan mengenai Isi Piringku, Food Loss and Waste (FLW), serta keamanan pangan melalui Cek KLIK, peserta juga terlibat dalam kegiatan budidaya pangan lokal, kampanye digital, inovasi menu sehat, pengolahan produk pangan, hingga puncak selebrasi berupa gelar karya di akhir kegiatan.
Pelaksanaan kegiatan berlangsung dengan penuh antusiasme. Berdasarkan wawancara dengan perwakilan siswa kelas XI-F, Ziankha Zachneza Dwi Shovia, kegiatan ini dinilai menyenangkan sekaligus memberikan pengalaman belajar yang berbeda dari pembelajaran di kelas. “Saat pemateri menjelaskan di depan, kami mendapatkan ilmu baru. Selain itu, ada kejutan yang tidak disangka-sangka, yaitu Ibu Lusi membawakan dimsum untuk siswa kelas XI,” ungkap Ziankha.

Ziankha menambahkan bahwa tantangan yang paling berkesan adalah membangun kekompakan kelompok saat mengerjakan lembar kerja serta keberanian untuk bertanya kepada pemateri. Setelah mengikuti kegiatan ini, Ziankha mengaku lebih termotivasi untuk menerapkan pola hidup sehat sesuai prinsip B2SA dalam kehidupan sehari-hari.
Di balik pelaksanaannya, kegiatan ini juga menghadirkan sejumlah tantangan bagi panitia, terutama dalam pengaturan waktu dan pengondisian peserta. Antusiasme siswa yang tinggi pada hari pertama membuat proses presensi dan pengondisian membutuhkan waktu lebih lama dari yang diperkirakan. Meski demikian, seluruh rangkaian kegiatan tetap dapat berjalan dengan baik dan materi yang disampaikan para narasumber tersampaikan sesuai tujuan yang telah direncanakan.

Ibu Diar Astuti Fistyorini, S.Pd., selaku perwakilan panitia, menjelaskan bahwa berdasarkan pengamatan di lapangan, keterlibatan siswa dalam berbagai aktivitas menunjukkan hasil yang positif. Keaktifan peserta dalam menyimak materi, menyelesaikan lembar kerja, melakukan praktik budidaya pangan, hingga mengolah produk pangan lokal menjadi indikator bahwa tujuan kegiatan telah tercapai dengan baik. Secara umum, tingkat ketercapaian aktivitas diperkirakan mencapai 70–80%, sementara evaluasi pemahaman materi akan dilakukan melalui penilaian pada akhir kegiatan.
Panitia bersyukur seluruh rangkaian kegiatan dapat terlaksana dengan lancar. Ke depan, program kemandirian pangan ini diharapkan tidak berhenti pada kegiatan budidaya dan pengolahan pangan saja, tetapi juga dapat dikembangkan ke bidang peternakan maupun perikanan dengan persiapan yang lebih matang. Melalui kegiatan AROMA, sekolah berharap dapat menumbuhkan generasi yang sehat, kreatif, mandiri, dan memiliki kepedulian terhadap ketahanan pangan di masa depan.
Tim Liputan: @jurnalistiksmansakokid
Berlian Alfa Brain (XI-F)
Alifia Maulida Asyifa (X-C)









